Sambutan

"Hati-hati.. Anda sedang ditemani hasil perbuatan jari tangan Musha"

Selasa, Mei 15, 2012

Satu cinta untuk Dia

Ini adalah kisah tentang seorang lelaki yang hidup 5000 tahun yang lalu. Lelaki itu tinggal bersama istri yang amat di cintainya di sebuah negeri yang hijau nan subur. Ia adalah seorang lelaki solih yang sangat teguh dalam keimanannya. Bertahun-tahun ia menjalani misi dakwahnya, bersama istri yang selalu menjadi penyejuk hatinya di kala gelombang cobaan menyapa.

Namun ada satu hal yang membuat hidupnya terasa belum sempurna. Bertahun-tahun lamanya ia menggayuh bahtera rumah tangga bersama istrinya, ia belum juga di karuniai seorang anak. Padahal lelaki itu sudah tidak lagi muda. Ia sangat merindukan kehadiran buah hati yang kelak akan melanjutkan perjuangannya. Setiap hari ia dan istrinya berdoa kepada Alloh, untuk di karuniai seorang keturunan. Air mata yang selalu meleleh dalam keheningan doanya itu menjadi bukti keinginannya yang sangat kuat dan dalam. Setiap hari ia berdoa. Setiap hari ia memohon. Setiap hari ia merindukan lahirnya anak yang nantinya akan mendoakannya saat ia telah tiada di dunia. Namun, ternyata Alloh belum juga menjawab doanya saat itu. Alloh maha mengetahui, apa yang baik untuk hambanya-hambanya.

Hingga suatu hari, sang istri tiba-tiba mengajukan permintaan yang membuat lelaki paruh baya itu tersentak kaget. Istri yang sangat di cintainya itu memintanya untuk menikah lagi. Ia mengatakan bahwa ia rela untuk di madu. Ia rela berbagi cinta dengan wanita lain. walau mungkin hatinya sangat berat sebagai seorang wanita, namun cintanya kepada suaminya itu meleburkan rasa berat yang masih bersemayam di dalam dada. Ia hanya ingin melihat suaminya tesenyum bahagia dengan menggendong seorang anak. Ia hanya ingin melihat suaminya menjadi seorang ayah. Cinta yang amat tulus kepada suaminya inilah yang membuat hatinya tegar, walau mungkin hati kecilnya menangis tersedu-sedu. Namun inilah pilihan hidup yang telah ia pilih, dan akan ia jalani.

Dan akhirnya, lelaki itupun menikahi wanita lain dan di karuniai seorang anak laki-laki yang mungil. Alangkah bahagianya hati lelaki itu dengan kelahiran sang buah hati. Di tatapnya kedua mata anaknya dengan penuh kasih sayang, seakan menyampaikan sebuah pesan dan harapan besar untuknya jika ia dewasa nanti. Setiap hari ia gendong anak itu. Ia timang. Ia jaga dengan penuh kasih sayang.

Bertahun-tahun lamanya ia mengidamkan seorang anak, dan pada saat usianya sudah mulai senja inilah ia benar-benar memiliki anak. Sesekali air matanya mengalir karena kebahagiaan yang begitu membuncah. Di setiap doanya ia selalu mengucap syukur kepada Alloh atas karunia besar yang diberikannya.

Namun, lambat-laun istri pertama yang tadinya begitu tegar dan tabah itupun tak kuasa menahan rasa cemburunya. Ia merasa suaminya lebih mencintai istri keduanya dari pada dirinya. Hari demi hari di laluinya dengan menyimpan perasaan gelisah. Hari-hari di jalaninya dengan perasaan gundah gulana. Terkadang ia menangis sendiri, entah karena apa iapun sulit menjelaskan. Akhirnya, iapun menyampaikan perasaan itu pada suaminya. Ia menyampaikannya dengan hati yang berat, tak kalah beratnya dengan saat ia meminta suaminya untuk menikah lagi dahulu. Sekali lagi, istri pertama itu mengajukan permintaan yang mengagetkan. Kali ini ia meminta suaminya untuk menjauhkan istri keduanya sekaligus anaknya di tempat yang jauh darinya. Ia benar-benar terbakar rasa cemburu. Ia tak mampu lagi menahan perasaan hatinya, jika masih hidup bersama-sama dengan wanita yang menjadi istri kedua suaminya. Ia memang mencintai suaminya. Bahkan sangat mencintainya. Namun ia juga tak mau menyiksa dirinya sendiri lebih dalam lagi.

Lelaki solih itupun akhirnya membawa istri keduanya bersama anaknya yang masih kecil berjalan ke arah selatan. Ia menempuh perjalanan panjang selama berhari-hari. Maka sampailah ia di sebuah gurun pasir yang tandus, tak ada tumbuh-tumbuhan, dan tak ada air. Sinar matahari yang terik membakar wilayah itu. Di tempat inilah lelaki itu akan meninggalkan istri keduanya dan anaknya yang masih sangat kecil.

Lelaki itupun akhirnya akan pulang kembali ke negerinya. Istri pertamanya sudah menunggunya dengan penuh kecemasan disana. Iapun hendak mengucapkan salam perpisahan kepada istri kedua yang akan di tinggalkannya, entah sampai kapan ia bisa kembali menengoknya. Sang istri itu kemudian menangis. ia mendekapnya erat-erat. Air matanya terus mengalir bercucuran. Ia tak mau di tinggal sendiri. Ia tak mau berpisah dengan suami yang amat di cintainya itu. ia peluk tubuh suaminya itu erat sekali, dengan air mata yang terus mengalir tiada henti. Dalam dekapan suaminya yang hangat itu, terbayang terus olehnya saat ia harus menjalani hidup seorang diri. Di tengah gurun pasir yang tak ada penghuninya ini. Ia terus menangis dan menangis. Semakin lama dekapannya semakin kuat. Ia benar-benar tak mau di tinggal sendiri. Lelaki itu masih saja terdiam. air mata yang dari tadi masih dapat dia tahan akhirnya meleleh juga. Ia menatap wajah istrinya. Ia tatap dua bola matanya yang masih lembab itu. bibirnya tampak berat untuk mengucap. Kemudian Ia berkata lirih “Alloh akan menjagamu, wahai istriku terkasih... Aku titipkan dirimu kepada-Nya...”. isak tangis istrinya pun semakin menjadi-jadi. Ia pegang lengan suaminya itu saat ia mulai berpaling dan hendak meninggalkannya. Sekali lagi tatapan mereka beradu. Keduanya pun menangis. Perlahan dilepaskannyalah genggaman itu, dan lelaki itu mulai berjalan untuk pulang kembali. Sang istri masih saja terduduk lemas berlinangan air mata, sembari melihat suaminya berjalan pergi hingga ia tak terlihat lagi...

Lelaki itu terus berjalan menuju negerinya yang masih sangat jauh. Air matanya selalu menetes di setiap langkah kakinya. Masih terbayang hangat dalam ingatannya saat-saat terakhir ia meninggalkan istri dan anaknya tadi. Saat ia mengucapkan salam perpisahan kepada anak yang sangat di cintainya. Saat ia mengecup kening anak yang bertahun-tahun ia nantikan itu, sebelum meninggalkannya pergi entah sampai kapan. Air matanya masih saja menetes, menjadi jejak perjalanan panjangnya menuju kampung halaman untuk melanjutkan misi dakwahnya.

Waktu terus berlari dengan begitu cepat. Tahun telah berganti tahun. Lelaki itu semakin tua. Usianya sudah semakin senja. Dan di usianya yang senja itu, dia masih saja mengabdikan diri kepada Robb-nya. Ia tak mengenal rasa lelah untuk mengenalkan tauhid kepada dunia.

Sampai pada suatu hari, Ia menerima wahyu dari Alloh untuk pergi ke daerah gurun pasir yang pernah ia datangi dulu. Lelaki itu sangat bahagia, itu artinya ia akan bertemu lagi dengan anaknya setelah sekian tahun lamanya. Lelaki tua itupun berjalan menuju tempat yang dimaksud. Tempat itu sangat jauh dari tempat tinggalnya. Tubuhnya yang renta itu tak sekuat dulu lagi. Namun kerinduannya yang sangat dalam untuk dapat bertemu lagi dengan anak yang sangat dicintainya itu, membuat kelelahannya menjadi kebahagiaan. Ia terus berjalan dan berjalan. Siang dan malam, tanpa kenal lelah dan letih.

Maka sampailah ia di gurun pasir tempat ia dahulu meninggalkan anak dan istrinya. Tempat itu kini sudah berubah. Tak seperti dulu lagi. Tempat itu kini sudah menjadi sebuah perkampungan yang ramai. Tidak seperti saat ia dulu meninggalkan istrinya disana, sepi dan tak berpenghuni. Sesekali terlintas dalam ingatannya kenangan-kenangan masa lalu di tempat ini. Saat ia dan istrinya menangis karena akan berpisah. Tanpa disadari mata lelaki itu mulai berembun. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan anaknya, dan juga istrinya. Ia datangi rumah penduduk satu per satu. Ia cari, dimana anak dan istrinya sekarang tinggal. Ia ketuk pintu setiap rumah yang di lewatinya, ia bertanya dan bertanya, dimana rumah istri dan anaknya sekarang. Akhirnya, ia di tunjukan kepada sebuah rumah. Ia datangi rumah itu. lalu dia ketuk pintunya. Tak lama kemudian terdengar suara dari dalam rumah. Suara yang sangat akrab di telinganya. Pintu itupun perlahan di buka dari dalam. Maka tampaklah oleh kedua matanya sang pemilik rumah, yang tak lain adalah istrinya. Sesaat mereka saling bertatapan. Lalu lelaki itu langsung mendekapnya, sambil berkata lirih “istriku, ini aku...”. keduanya kini saling mendekap. Air mata kerinduan yang telah terpendam selama bertahun-tahun itu, kini mengalir dengan begitu derasnya. Keduanya saling melepaskan kerinduan.

Sang istri kemudian membawanya ke tempat anaknya berada. Kini anak yang dulu masih balita itu sudah tumbuh menjadi remaja yang tangkas dan tampan. Ia tatap wajah anaknya dengan gelora kerinduan. Lalu di dekapnya juga anak yang telah lama ia tinggalkan itu erat-erat. “ini ayah nak...” katanya sambil berlinangan air mata kerinduan. Setelah itu, hari-hari di jalaninya dengan penuh kegembiraan bersama keluarganya. Dia ajari anaknya tentang banyak hal. Ia selalu menanamkan keimanan kepada keluarganya. Ia selalu mengajarkan kepada anak dan istrinya untuk mencintai Alloh, melebihi cintanya kepada apapun. Ia ajarkan kepada keluarganya tentang surga dan neraka. ternyata anaknya adalah remaja yang cerdas. Ia cepat menangkap setiap pelajaran yang diajarkan oleh ayahnya.

Pada suatu malam, lelaki tua itu bermimpi. Ia bermimpi bahwa Alloh memerintahkannya untuk menyembelih anaknya yang sangat ia cintai itu. seketika lelaki itu tersentak dari tidurnya. Ia kaget setengah mati. Sekujur tubuhnya gemetar. Seakan ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya di dalam mimpi. Ia lalu menengadahkan kedua tangannya, ia berdoa sambil menangis “Ya Alloh, apakah benar mimpiku tadi adalah wahyu dari-Mu? jika benar mimpi tadi adalah wahyu dari-Mu, tolong ulangi mimpi itu sekali lagi. Supaya aku menjadi yakin ya Robb..”

Pada malam kedua, lelaki itu bermimpi lagi. Mimpi yang sama dengan mimpinya kemarin. Ia lalu terbangun dan menangis tersedu-sedu. “Ya Alloh... apakah benar engkau memerintahkanku untuk menyembelih darah dagingku sendiri...” katanya sambil berlinangan air mata. “ya Alloh..” lanjutnya. “aku masih ragu jika mimpi itu adalah wahyu dari-Mu... tolong jika itu benar-benar wahyu dari-Mu, ulangilah mimpi itu sekali lagi ya Alloh....” katanya dalam rintihan doanya di malam yang hening itu.

Malam ketiga, mimpi itu terulang lagi. Maka kini yakinlah lelaki itu, bahwa mimpi itu adalah benar-benar wahyu dari Alloh. Ia segera bangkit dan menengadahkan
tangannya sambil berdoa “ya Alloh... sesungguhnya aku sangat mencintai anakku, aku telah merindukannya bertahun-tahun lamanya... namun engkau yang maha agung jauh lebih aku cintai dari semuanya...” katanya. Air mata lelaki itu terus mengalir. dadanya terasa sesak dan bergemuruh. Ia sama sekali tak pernah menduga akan mendapatkan ujian seperti itu. namun, itu adalah perintah yang harus dijalaninya sebagai seorang hamba Alloh yang tulus.

Paginya harinya, tanpa di ketahui oleh istrinya, ia menyampaikan wahyu itu kepada putranya. Sang anak yang telah lama mengenal iman itu sama sekali tidak menolaknya. Bahkan ia menenangkan hati ayahnya untuk sabar dan ikhlas dalam menjalaninya. Karena semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan dari Alloh. Maka keduanya segera berjalan menuju sebuah bukit yang sepi. Lelaki itu lalu membaringkan anaknya diatas sebuah batu. Ia mulai mengangkat parangnya yang tajam. Namun sekali lagi hatinya bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Mulutnya tak sanggup berkata-kata lagi. Di lihatnya kedua bola mata anaknya yang masih polos. Ia tak kuasa menahan tangis. Lelaki itu kembali menangis. Apakah ia benar-benar akan menyembelih darah dagingnya itu, dengan tangannya sendiri? Terlintas dalam ingatannya kenangan-kenangan masa lalu yang dijalaninya. Saat ia menantikan kelahirannya, saat ia meninggalkannya sendirian di gurun pasir, dan saat ia sudah bertemu kembali setelah sekian tahun lamanya, ia sendiri yang akan menyembelihnya.

Lelaki itu mulai ragu. Air matanya terus berlinang. Pada saat itulah, anaknya berkata menguatkan hati ayahnya “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh”. setelah mendengar kata-kata dari anaknya
, hati lelaki itu menjadi lebih mantap. “bismillah, ya Alloh... kini aku buktikan bahwa cintaku kepada-Mu jauh melebihi cintaku kepada apapun. Termasuk cinta kepada darah dagingku sendiri ya Alloh...” katanya. Lalu dia memejamkan mata, sambil menggolokkan parang itu ke leher anaknya.
Lelaki itu masih saja menangis. Ia belum berani membuka matanya. Ia belum mampu menyaksikan sendiri, anaknya meninggal berkelimpangan darah di depan matanya. Hatinya sungguh tak sanggup untuk melihatnya. Ia menundukan pandangannya. Ia tetap menutup mata sambil menangis tersedu-sedu.

Namun tiba-tiba ia mendengar suara dari sampingnya “ayah, ini aku..”. suara itu terasa tak asing baginya. Namun ia tak begitu memperhatikannya. Dadanya masih saja sesak. Ia tak kuasa membuka kedua matanya. Ia masih terus menangis. Sekali lagi, ia mendengar suara dari arah sampingnya “ayah, ini aku...”. kali ini suara itu tampak begitu nyata. Perlahan ia buka kedua matanya. Lalu ia terkejut, karena ternyata yang ada di hadapannya adalah seekor domba. Ternyata yang ia sembelih tadi adalah domba. Lalu ia melihat ke samping. Di lihatnya anaknya sedang berdiri sambil tersenyum. Seketika lelaki itupun bangkit dan langsung memeluk anaknya. Keduanya kini saling mendekap dengan sangat erat. Ternyata Alloh hanya menguji keimanan lelaki itu, apakah benar ia mencintai Alloh melebihi segalanya. Dan ternyata lelaki itu lulus ujian. Ia rela mengorbankan anaknya karena cintanya kepada Alloh benar-benar tulus. Alloh pun menggantikannya dengan domba. Dan inilah awal di laksanakannya ibadah qurban.

Lelaki yang solih itu adalah Nabi Ibrahim. Sedangkan anaknya adalah Nabi ismail. Gurun pasir yang tandus itu adalah kota suci Makkah. Kisah diatas mengajarkan kepada kita tentang muara cinta yang sebenarnya. Kita mudah mengatakan cinta kepada Alloh. Namun ternyata aplikasi cinta pada Alloh itu sungguh terasa berat. Tak semudah apa yang di ucapkan dengan kata-kata. (sumber: hambaAllah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar